Friday, July 1, 2016

Alhamdulillah, Panglima TNI Bolehkan Jilbab untuk Prajurit Wanita

 Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mempersilahkan anggota wanita TNI AD (Kowad) untuk mengenakan jilbab. “Jadi begini, jilbab itu bulan puasa jadi pada pakai. Kalau mau gunakan ya gunakan saja,” kata Gatot di Kantor Menkopolhukam, Jumat (1/7).

Gatot tak melarang jika jilbab itu digunakan oleh Kowad sebagai seragam tugasnya pascabulan ramadhan. Namun, Gatot tidak menyebut secara rinci mengenai aturannya. “Pakai, pakai saja. Gak ada yang ngelarang kan. Boleh, saya gak larang,” kata Gatot.



Jilbab di kalangan anggota wanita TNI merupakan yang pertama.  Pada tahun lalu, saat Panglima TNI dijabat oleh Jenderal Moeldoko, TNI menyatakan telah   mengakomodasi usul pemakaian jilbab bagi wanita TNI dalam melaksanakan tugas sebagai prajurit. Tapi aturan penggunaan jilbab itu hanya diperuntukkan bagi wanita TNI yang bertugas di Aceh. “Aturannya sudah kita buat. Tak ada larangan. Kalau mau pakai jilbab, tinggal pindah ke Aceh. Selesai persoalan,” kata Moeldoko waktu itu.

Sedangkan pada Mei 2015 lalu, Mabes Polri secara resmi mengakomodasi keinginan anggotanya maupun PNS yang bekerja di lingkungan Polri untuk berhijab. Kini para polwan sudah boleh mengenakan jilbab tanpa ada halangan lagi.

Dalam pengumuman yang terdapat dalam laman humas.polri.go.id aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Kapolri Nomor : 245/III/2015 tanggal 25 Maret 2015, tentang perubahan atas sebagian surat keputusan Kapolri Nopol : SKEP/702/X/2005 tanggal 30 September 2006 tentang sebutan penggunaan pakaian dinas seragam Polri dan PNS Polri.

Sumber : REPUBLIKA

Tuesday, June 28, 2016

Jadi Viral, Foto Pejabat Parepare Injak Sajadah Pakai Sepatu ''Share Biar Pemerinta Indonesia Lihat''

Foto sejumlah pejabat Parepare yang tengah berdiri menggunakan sepatu di atas karpet salat menjadi viral di media sosial. Foto itu banyak mendapat kecaman karena karpet yang digunakan sebagai sajadah itu diinjak pakai sepatu.  

Selain itu, para pejabat yang mengenakan sepatu mengilap dan baju PNS, sepertinya sedang mendampingi pimpinannya melakukan wawancara dengan wartawan stasiun televisi lokal, sebelum acara peringatan Nuzulul Quran di Parepare, Selasa, 21 Juni.  














Sang wartawati sendiri melepas sepatu dan kaos kakinya saat sesi wawancara. Netizen pun membandingkan sikap itu dengan para pejabat yang mayoritas memilih tidak melepas sepatu. 

Hanya satu pejabat yang berdiri di samping kanan pimpinan yang melepas sepatunya.  


















Salah satu netizen Tamzir yang mengunggah foto itu ke akunnya. Dia juga menuliskan hashtag #kerensepatunyapak dan #bukanuntukditiru. (ris)



Thursday, June 23, 2016

Ahok Ditolak dalam acara peresmian RPTRA

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berhasil meloloskan diri dari hadangan ratusan warga Penjaringan Jakarta Utara, yang sudah menunggu kehadirannya sejak 15:00 WIB. Ahok berhasil menghindar dari hadangan warga dan menghindar melalui jalur kebun warga yang menunggu di Jalan Bandengan.
Setelah berhasil menghindari warga, Ahok pun dapat hadir dan memberikan sambutan dalam acara peresmian Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Penjaringan Indah.  

“Nah kita harapkan bapak ibu manfaatkan RPTRA ini. Boleh enggak dibuat pernikahan? Jadi tempat ini boleh dipakai untuk kawinan,” ucap Ahok dalam sambutannya, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (23/6).
Biasanya, acara peresmian RPTRA di bulan puasa diikuti dengan buka puasa bersama. Namun kali ini Ahok langsung balik kiri usai meresmikan RPTRA.
Sementara itu, ratusan warga pendemo masih bersiaga di lokasi menunggu Ahok selesai hadir dalam acara ini.



Sunday, June 19, 2016

Kelelahan Dakwah Selama Ramadan, Kondisi Kesehatan Aa Gym Menurun

Pembina Pesantren Daarut Tauhid Abdullah Gymnastiar atau biasa dikenal Aa Gym harus beristirahat total lantaran kondisi kesehatannya menurun. Kondisi Aa Gym menurun karena aktivitas dakwah yang padat selama Ramadan.

"Sebenarnya Aa sakitnya udah seminggu, karena kecapean. Tapi dalam kondisi capek suka maksain ceramah ke luar kota atau pulau, jadi drop," ungkap Eka Budiman selaku kerabat dekat Aa Gym saat ditemui di Masjid Daarut Tauhid, Jalan Geger Kalong, Kota Bandung, Minggu (19/6/2016).

Dalam beberapa kesempatan kegiatan ceramah di sejumlah lokasi, Eka ikut mendampingi Aa Gym. Dia menyebut, Aa Gym mulai mendapatkan bantuan oksigen usai ceramah di Batam.

Namun, Aa Gym tetap menerima undangan-undangan di beberapa lokasi lain. Sehingga, kata dia, kondisi kesehatannya tak kunjung membaik dan membutuhkan oksigen yang tersedia di kamarnya.



"Udah disuruh istirahat sama dokter yang rutin ngecek kesehatan Aa, tapi Aa milih tetap berkegiatan," jelas dia.

Soal kabar terbaru yang tersebar melalui broadcast BBM yang menyebut kondisi Aa Gym dalam keadaan kritis dibantah oleh Eka. Ia menegaskan, Aa Gym hanya membutuhkan istirahat total untuk recovery.

Bahkan pagi tadi Aa Gym sempat memberikan ceramah kepada santri-santri. Namun, ceramah hanya berlangsung selama 10 menit itu, Aa Gym menyampaikan pesan kepada santri.

"Yang disampaikan pesan-pesan seperti biasanya, ibadah di Ramadan harus lebih diperkuat. Aa kangen sama anak-anak makanya tadi pagi pengen ngasih ceramah," kata Eka menuturkan Aa Gym.

Setelah menyampaikan ceramah di hadapan santri-santri, ujar dia, Aa Gym dalam kondisi baik. Pria yang kerap menggunakan sorban itu masih bisa salat berdiri dan makan sendiri.

"Jadi kabar Aa pas ceramah make bantuan oksigen itu enggak benar. Aa baik-baik saja, cuma butuh istirahat," pungkasnya. 


Meski Beda Agama, Ayah Ini Rela Biayai Sang Anak Jadi Santri

Perbedaan agama kerap disebut-sebut sebagai biang kerok perpecahan dan juga akar dari segala konflik. Namun, ternyata tak semua orang berpikiran sama. Salah satu santri di sebuah Pondok Pesantren Al Payage, Papua merasakan kasih sayang dari ayahnya yang memeluk agama Kristen. 

Anak itu bernama Rudi. Tak mudah untuk menciptakan damai di sebuah keluarga yang berbeda agama. Tapi keluarga Rudi ternyata memiliki toleransi yang tinggi. Ayahnya mengizinkan Rudi untuk memilih Islam sebagai agama yang dia peluk. Bukan hanya itu, Rudi juga dibolehkan untuk menuntut ilmu agama Islam di pondok. 





Abdul Wahab, salah satu tenaga pengajar di pondok itu, mengatakan perbedaan agama tak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan (keluarga Rudi) sehari-hari. “Meski beda agama keharmonisan anak dan orangtua di Papua ini tidak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan sehari,” ujar Wahab kepada media yang sama. 




Abdul juga bercerita, Rudi setiap hari mengaji, mendengar nasihat gurunya, Saiful Islam, di pondok tersebut. Dia juga belajar mengenai pentingnya sikap dan akhlak terhadap orangtua. Ayahnya, meski berbeda agama, tetap saja orangtua yang harus dihormati. Begitu juga bagi sang ayah, Rudi tetap saja buah hatinya yang tercinta, meski memilih untuk memeluk Islam. 

“Rudi yang setiap hari mengaji, mendengar petuah gurunya Saiful Islam di pondok dan ia juga mengerti betul pentingnya akhlak terhadap orangtua meski berbeda Agama," tandas Wahab. 


Bintang.com

Saturday, June 18, 2016

Berdo'a lah Kapan Saja karena kita tidak tau kapan do'a Kita dikabulkan.Tanpa Doa, Seperti Tentara tanpa Senjata

Berbeda dengan makhluk-Nya, Allah mencintai orang-orang yang rajin memohon kepada-Nya. Karena hal itu menunjukkan bahwa manusia merasa fakir (butuh) kepada Allah. Dan Allah justru membenci orang-orang yang angkuh dan enggan berdoa kepada-Nya. Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

"Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya" (HR Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Realitanya, ada orang-orang yang merasa dirinya cukup, merasa bisa mendapatkan keinginannya tanpa pertolongan Rabbnya, lalu meninggalkan doa. Sudah barang tentu ia akan mengenyam kesulitan demi kesulitan dalam menjalani hidup, di dunia apalagi di akhirat. Allah berfirman,

"Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,  serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. " (QS al-Lail 8 – 10)



Tanpa Doa, Seperti Tentara tanpa Senjata

Di antara kaum muslimin, ada lagi yang meninggalkan doa karena merasa tak mampu memenuhi persyaratannya. Seperti orang  yang berkata, "Saya biasa makan dari rejeki yang tak jelas halal haramnya, sedangkan orang yang mengkonsumsi barang yang haram tidak dikabulkan do'anya, maka percuma saja kalau saya berdoa." Laa haula wa laa quwwata illa billah. Adakah sesuatu yang bisa diandalkan seorang muslim melebihi 'senjata' doa? Hingga ada yang rela mencampakkan doa agar bebas makan apa saja?

Seseorang yang mengerti  urgensi doa, tentu lebih memilih untuk memenuhi syarat terkabulnya doa, katimbang ia harus bertelanjang dari doa. Karena meninggalkan hal yang haram itu lebih mudah dijalani daripada hidup tanpa menyandang senjata doa. Tanpa doa, keadaan seseorang lebih berat dari tentara yang tidak memiliki senjata, petani yang tidak memiliki cangkul, orang sakit yang tak mendapatkan obat, atau seseorang yang ingin membeli barang tanpa memiliki uang.

Hanya mengandalkan kecerdasan pikir, kekuatan fisik maupun alat canggih, jelas tidak memadai bagi manusia untuk bisa meraih tujuan bahagia yang sempurna, atau mencegah datangnya marabahaya. Alangkah kecil modal dan kekuatan, sementara begitu besar cita-cita yang diharapkan, dahsyat pula potensi bahaya yang mungkin datang di hadapan. Untuk itu, manusia membutuhkan 'kekuatan lain' di luar dirinya untuk merealisasikan dua tujuan itu. Dan barangsiapa yang menjadikan doa sebagai sarana, niscaya dia akan menjadi orang yang paling kuat, paling sukses dan paling beruntung. Karena doa mengundang datangnya pertolongan Allah Yang Maha Berkehendak, Mahakuasa, Mahakuat dan mampu melakukan apapun yang dikehendaki-Nya, Fa'aalul limaa yuriid. Karena itulah, Ibnul Qayyim dalam al-Jawaabul Kaafi berkata, "Doa adalah sebab yang paling kuat untuk mencegah dari perkara yang dibenci dan menghasilkan sesuatu yang dicari."

Khasiat Doa Sepanjang Masa

Allah telah banyak mengisahkan dahsyatnya doa, yang menjadi solusi problem-problem besar dan menjadi sebab yang menyelamatkan dalam banyak peristiwa genting dari zaman ke zaman. Dan meski dengan variasi dan kadar yang berbeda, sebenarnya problem-problem yang di hadapi manusia dari zaman ke zaman memiliki karakter yang nyaris sama.

Jika di zaman ini banyak orang yang galau, atau berduka lantaran kesulitan yang menghimpitnya, maka dahulu Nabi Yunus 'alaihissalam pernah mengalami hal yang sama dan bahkan lebih berat. Toh, kegalauan itu akhirnya sirna dengan doa beliau, "laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin," Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, "Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan." (QS al-Anbiya' 88)

Maka adakah orang yang sedang menyandang kesulitan hari ini mengingat dan berdoa sebagaimana doa beliau?

Jika sekarang banyak orang menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dan tak jarang kesulitan untuk menemukan sebab dan obatnya, hal yang sama pernah menimpa Nabi Ayyuub 'alaihissalam. Dan pada akhirnya penyakit beliau sembuh dengan doa, "Rabbi inni massaniyadh dhurru wa Anta Arhamur Raahimiin",

Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, "Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya." (QS al-Anbiya' 84)

Jika sekarang banyak orang mengalami rasa takut akan datangnya bencana, atau khawatir dengan bahaya yang mengancam, solusi dari semua itu juga telah ditempuh oleh Nabi yang mulia, Muhammad shalallahu 'alaihi wasalam, yakni dengan doa, "hasbunallahu wa ni'mal Wakiil", maka Allah menghindarkan mereka dari bahaya, sebagaimana firman-Nya,

"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa," (QS Ali Imran 174)

Begitulah doa, mampu menjadi solusi saat manusia angkat tangan untuk memberi solusi. Doa juga efektif menjadi jalan keluar ketika segala cara menemui jalan buntu. Doa juga mampu mencegah bahaya, yang dosisnya tidak mampu dibendung oleh kekuatan manusia.

Semestinya doa bukan menjadi alternatif  terakhir, atau ia baru diingat setelah ikhtiyar tak menghasilkan jalan keluar. Mestinya doa tetap mengiringi sebelum, di saat dan setelah ikhtiyar ragawi dilakukan.

Faktanya, masih jamak terjadi di kalangan kaum muslimin. Mereka begitu getol dan rajin berdoa saat menghadapi situasi khusus. Saat anak mencari sekolah, ketika sedang mencari lowongan kerja, tatkala ada keluarga yang sakit, atau ketika ada tanda-tanda bencana akan terjadi. Selebihnya, tak ada doa dipanjatkan, tak tersirat dalam pikirannya bahwa Allahlah yang kuasa segalanya, untuk memberi atau menahan sesuatu yang diharapkan. Manusia tidak lepas sedikitpun dari pertolongan Allah untuk meraih kesuksesan. Sehingga ia perlu berdoa kepada Allah untuk kebaikan seluruh urusannya, bukan hanya mengandalkan kehebatan dirinya yang hakikatnya sangat lemah tanpa pertolongan Allah. Karenanya, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasalam adalah,

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

"Ya Allah, rahmat-Mu aku harap, dan janganlah Engkau serahkan (nasib) diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, perbaguslah untukku segala urusanku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau." (HR Abu Dawud)

Doa Harian, Menjawab Segala Kebutuhan

Adalah baik jika seseorang membiasakan doa-doa harian yang bersifat ta'abbudiyah maupun adab. Seperti doa sebelum dan sesudah makan, hendak tidur dan setelah bangun, masuk masjid atau keluar, maupun doa-doa lain yang disyariatkan. Ketika ia menjalaninya dalam rangka menjalani sunnah, ia mendapatkan pahala. Inilah fungsi doa yang disebut dengan du'a al-'ibaadah (doa sebagai realisasi ibadah). Namun ada fungsi lain dari doa, yang disebut dengan du'a al-mas'alah (doa sebagai permohonan).  Ketika doa dilantunkan tanpa adanya kesadaran bahwa dirinya sedang memohon kepada Allah, maka maksud yang dikehendaki dari makna doa tidak akan terwujud. Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

"Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan alpa." (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, "hasan").

Andaikan seorang muslim membiasakan diri dengan doa-doa harian yang disyariatkan, sekaligus diiringi dengan kesengajaan dan pengharapan sebagaimana makna yang terkandung dalam doa, niscaya tercoverlah kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena doa-doa yang Nabi ajarkan dari bangun tidur hingga bangun tidur kembali sudah mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia, baik kemaslahatan diiniyyah maupun dunyawiyyah. Permohonan sehat dan dijaga dari penyakit, kemudahan segala urusan, permohonan rezeki, perlindungan dari segala gangguan setan dan keburukan, maupun permohonan jannah dan terhindar dari neraka.

Generasi terbaik di kalangan sahabat, berusaha menghadirkan pengharapan saat berdoa dengan suatu doa yang menjadi rutinitas harian. Ibnu Katsier dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim, bahwa 'Irak bin Malik, selepas shalat Jumat beliau berdiri di pintu masjid beliau berdoa dengan doa keluar masjid lalu berkata, "Ya Allah, saya telah memenuhi panggilan-Mu, lalu shalat dengan shalat yang Engkau fardhukan atasku, akupun hendak bertebaran di muka sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka berilah rezki kepadaku dari karuia-Mu, karena Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezki.
"
Perlu kiranya digarisbawahi, bahwa doa dengan segala kelebihan dan faedahnya, tidak menafikan atau menghapus keharusan untuk ikhtiyar. Masing-masing memiliki kadar tersendiri sebagai sebab terkabulnya doa, di samping juga memiliki nilai ibadah tersendiri Wallahu a'lam.